Para Pengkhianat

SOETARDJO adalah pedjoeang kemerdekaan. Ia, bersama para pedjoeang lainnya, berusaha mengusir dan membebaskan Indonesia dari cengkaraman penjajah. Di masa perdjoeangan itu, banyak terdapat pengkhianat-pengkhiatan bangsa sendiri. Jenderal Soedirman memerintahkan Soetardjo turun ke kota untuk menyelidiki pengkhianat-pengkhianat itu di sana. Soetardjo pun "turun gunung", keluar dari persembunyian gerilya.

Di kota, Soetardjo menyamar sebagai penjual air tapai singkong. Kesana kemari ia menjajakan dagangannya. Kemudian ia pun tahu siapa saja para pengkhianat itu. Oleh temannya, ia diajari meracik racun yang dapat ia campurkan ke dalam air tapai singkong yang ia jual. Akhirnya, air tapai singkong pun bercampur racun, dijual pada pengkhianat-pengkhianat itu, dan matilah mereka.

Orang-orang mencoba menjelaskan sebab kematian para pengkhianat. Ada yang menyebutkan mereka mati karena kualat. Dukun-dukun mengatakan mereka mati disantet. Para kyai mengatakan kematian mereka merupakan adzab sebab telah berkhianat pada bangsa. Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan bahwasannya mereka mati karena terkena serangan jantung.

Saat ini Soetardjo telah berusia 89 tahun. Dengan sekian banyak anak dan cucunya, ia akhirnya tinggal bersama salah satu cucunya, dan merupakan cucu yang paling kaya yang ia miliki. Cucunya ini ternyata seorang yang hidup kaya dari hasil membantu para cukong pembalakan liar hutan-hutan di Indonesia.

Suatu hari, polisi menciduk sang cucu dan memenjarakannya atas kejahatan yang telah ia lakukan. Soetardjo tenang saja. Ia pergi mengunjungi cucunya di sel tahanan polisi. Ia lihat cucunya merasa kedinginan tinggal di dalam ruang penjara. Cucunya berpesan pada Soetardjo untuk datang lagi keesokan hari dan membawakan air yang hangat-hangat. Esoknya, Soetardjo datang dengan menenteng sebotol air tapai singkong. Ia berpesan pada cucunya, "minumlah air ini pada tengah malam."

Keesokan harinya polisi datang kepada Soetardjo. Mereka mengabari bahwa cucunya telah mati terkena serangan jantung.

KISAH di atas adalah cerita yang saya dapatkan dari Indonesia Siesta di Delta FM. Indonesia Siesta adalah acara favorite saya. Kemarin, sehari setelah perayaan 63 tahun kemerdekaan Indonesia, acara ini masih mengangkat topik seputar hari kemerdekaan. Saya tidak tahu apakah kisah itu nyata adanya ataukah sebuah cerita fiksi belaka.

Pengkhianat-pengkhianat bangsa tidak hanya di zaman revolusi (fisik). Di zaman sekarang pun pengkhianat itu malah lebih banyak dan lebih jelas kelihatan. Koruptor, aktvis NGO yang seolah membela rakyat dan kemanusiaan namun ternyata menjual Indonesia pada dan pendukung Neolib, para pejabat yang menjual kekayaan alam Indonesia kepada pihak asing, adalah sebagian dari sekian banyak pengkhianat bangsa.

Proklamasi kemerdekaan telah 63 tahun berlalu. Kemiskinan ternyata belum juga berlalu menyelimuti negeri ini. Inikah kemerdekaan?

Para pengkhianat saat ini masih terus bernyanyi dan seolah berbakti pada negeri. Saya berharap, semoga Soetardjo tetap mau bergerilya menjamu mereka dengan air tapai singkong buatannya.

Catatan: gambar bendera pinjam dari sini.

3 comments

  1. Bayu Dardias  

    August 25, 2008 at 11:21 AM

    Cerita yang sangat menarik dan inspiratif, yang disajikan dengan bahasa yang membuat pembaca betah sampai akhir tulisan. Congrat...
    BTW, tinggal berapa orang yang masih sekonsisten Soetardjo????

  2. chodirin  

    August 31, 2008 at 7:28 PM

    teruatama koruptor.

  3. Anonymous  

    May 16, 2011 at 3:11 PM

    Di Jual KiLoanGx??

Post a Comment