Saat makan siang tadi saya ngobrol dengan seorang teman seorang relawan dari Australia yang ada di kantor tempat saya bekerja. Bron, begitu ia biasa dipanggil, berasal dari Melbourne dan sudah tinggal di beberapa negara lain sebelum ia menjadi relawan di sini. Sebelumnya ia sempat berkeliling Indonesia untuk mengenali kehidupan di negeri ini, termasuk ke Bengkulu dimana saya lahir dan besar.


Menilai fenomena korupsi di Indonesia, Bron berpendapat hal itu dapat disebabkan karena kesenjangan yang terlalu besar (huge gap) antara orang kaya dan orang miskin. Satu contoh saja, jika di sebuah pemukiman yang rumah-rumah berdekatan satu sama lain, maka akan lebih baik kalau rumah itu ukurannya sama dan tidak ada banyak perbedaan.

"Kalau punya rumah, saya akan melihat rumah orang lain. Jangan sampai rumah saya lebih besar dari rumah orang di sekitar. Kalau sampai berbeda, saya akan merasa tidak nyaman."

Pendapat Bron dan pengalamannya tentang "ukuran" rumah ini tentu jauh berbeda dengan kehidupan orang Indonesia kebanyakan akhir-akhir ini. Jika melihat rumah orang lain lebih besar, maka tetangganya akan berusaha membuat rumahnya juga berukuran besar, bahkan kalau dapat dibuat jauh lebih besar dibanding yang lainnya. Tentulah ini berkaitan erat dengan status sosial ekonomi masing-masing orang. Hasrat untuk lebih dari orang lain memacu seseorang untuk berusaha sedapat mungkin punya harta lebih banyak. Entah dengan cara yang baik seperti bekerja lebih keras, lebih banyak, lebih lama, ataupun dengan cara yang membuat negeri ini justru tambah parah tingkat korupsinya.

"Itulah sebabnya saya suka sistem komunis," kata Bron menambahkan dengan tertawa. 



Bron melihat di dalam sistem komunis, kesenjangan antara si miskin dan si kaya tak terlihat. Dan karena itu pula ia lebih baik dibanding dengan sistem yang ada seperti di Indonesia. 

Masyarakat Indonesia sekarang lebih sering menghargai orang lain karena pemilikan harta-benda. Sudah tak begitu hirau apakah mereka memperolehnya dari kerja keras ataukah dari menyiasati pencurian uang Negara.

Untuk menciptakan kondisi dimana jurang itu tak terlalu besar, ketimpangan sosial-ekonomi tak melahirkan kecemburuan, dan pembangunan lebih terlihat ada  pemerataan, maka sudah semestinya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tepat. Bukan membiarkan setiap orang berlomba tanpa batasan, sikut kiri-kanan, dan pada akhirnya menjadi srigala bagi orang lain. Siapa kuat maka dia menang. Siapa lemah, maka mohon maaf, Anda tak layak hidup di tanah air Indonesia.

Catatan: gambar ilustrasi bersumber dari sini.

Read More......

Orang Kaur Mudik Bersama

Persatuan Warga Kaur (PWK) Palembang dan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) mengajak adik sanak warga Kaur di perantauan untuk mudik bersama ke Kaur dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1434H.

Hari Minggu, 11 Agustus 2013 pukul 09.00 Wib atau reraye ke-4 akan ada kumpul-kumpul di Gedung Pendopo TM BINEKA desa Sekunyit Bintuhan. Pukul 19.00 Wib malam hari, akan ada pagelaran kesenian Kaur.

Mari balik ke Kaur. Kita bersilaturrahim sekaligus merayakan Idul Fitri tahun ini di Kaur.

Informasi ini disampaikan oleh Pak Son Iswandy dari PWK Palembang. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi beliau di no telepon genggam 0812 782 0344.

Read More......

Kiblat

Peristiwa ini terjadi tahun 2000 lalu. Ceritanya saya bersama-teman tim pembawa bantuan dari Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Yogyakarta membawa sumbangan warga Yogya untuk korban gempa bumi di Bengkulu. Sebagai orang Bengkulu, saya bersama teman-teman dari Bengkulu dipercaya untuk menjadi tim lapangan untuk memastikan semua bantuan tersalurkan ke masyarakat di banyak tempat. Maklum, gempa besar dengan kekuatan 7,3 SR saat itu mengundang banyak pihak untuk memberikan bantuan untuk menolong warga. Kalau asal-asalan, akan ada warga yang menerima bantuan berlimpah sementara tak sedikit mereka yang justru kekurangan bantuan.

Di sela-sela waktu bertugas itu, saya pulang ke rumah orang tua. Saya sembahyang dzuhur di rumah. Sajadah saya bentangkan di ruang belakang. Setelah selesai, rupanya ibunda memperhatikan saya.

"Menghadapnya kok kesana?" tanya ibu.

Saya kaget.

"Seharusnye kemane, Mak?" tanya saya dalam bahasa Kaur.

"Kesitu" kata ibu saya menunjuk ke arah depan rumah.

Tadi saya sembahyang menghadap ke arah kanan rumah. Akhirnya saya sadar kalau tadi saya bersembahyang ke arah Utara. Dengan posisi pulau Sumatera yang berada di bagian Timur kalau dari Tanah Suci Mekkah, seharusnya saya memang menghadap ke arah Barat. Setalah tiga tahun merantau ke Yogya, saya lupa arah kiblat ketika berada di rumah orang tua di sini.

Menurut penjelasan seorang saudara saya yang lulusan Pondok Pesantren Gontor, secara bahasa, kiblat (qiblatun/qiblah) adalah nomina (mashdar) berarti hadapan/tempat menghadap. Ia berakar dari verba qabila yang berarti menghadap.

"Secara khusus (Islam), Kiblat adalah tempat (baca:arah) kepada mana kaum muslimin menghadapkan wajahnya ketika shalat. Sebelum turunnya surat al-Baqarah: 144, Kiblat kaum muslimin adalah Masjidil Aqsha. Setelah turunnya ayat tersebut: berubah ke Masjidil Haram."

Kiblat adalah arah shalat (orang Melayu menyebutnya "sembahyang") yang menuju satu titik yakni Masjidil Haram yang ada di Mekkah. Semua ummat Islam yang melaksanakan Rukun Islam kedua tersebut mengarah kesana. Karena dari posisi Indonesia Kiblat itu adanya di sebelah barat--meski sesungguhnya juga agak ke barat laut sedikit, makanya orang di sini lebih sering menyebut Barat untuk menunjuk ke kiblat saat sembahyang.

Selain arah menghadap saat sembahyang, kiblat juga merupakah arah kepala hewan yang disembeliih dan arah kepala jenazah ketika dimakamkan. Informasi sederhana tentang kiblat ini dapat diperoleh di tautan ini.

Seorang teman yang baru pulang dari sekolah master di Belanda dua tahun lalu bercerita. Teman-temannya dari Suriname di Belanda melakukan sembahyang menghadap ke arah Barat. Ketika ditanya kenapa demikian, mereka menjawab singkat, "Karena dari nenek moyang kami dulu kalau melaksanakan shalat kiblatnya ke arah Barat." Padahal posisi Ka'bah jika di negeri Kincir Angin itu mestinya ke arah Timur.

Kisah teman di Belanda tadi saya ceritakan ke teman-teman saya di Alimat di dalam satu pertemuan. Mereka pun sudah mendapatkan kisah yang sama dari pengalaman berinteraksi dengan orang Suriname. Mereka yang berada di Suriname merupakan keturunan orang-orang Jawa masa penjajaha Belanda. Mereka di bawa ke negeri itu sebagai tenaga budak dan akhirnya beranak pinak di sana. Karena orang Jawa zaman dulu menghadap ke Barat saat shalat, akhirnya anak cucunya ikut demikian. Aneh, tetapi itulah kenyataan.

Saat saya ditegur ibunda usai melaksanakan sembahyang di Bengkulu 13 tahun lalu itu, saya hanya tersenyum-senyum saja. Sembahyangnya tetap sah dalam ajaran Islama. Pertama karena itu dilakukan tanpa sengaja dan karena ketidaktahuan. Kesalahan demikian selalu mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Kedua, di dalam ajaran Islam, kalau dalam kondisi arah Kiblat tak diketahui, maka mereka yang sembahyang mengikuti keyakinannya arah mana Kiblat itu. Dan ibunda saya pun sangat memahami kondisi saya.

"Kemanapun kalian menghadap, di situlah 'Wajah' Allah" (QS. Al-Baqarah:115). Demikianlah yang diajarkan dalam Islam. Dan Allah pun ada dimana-mana.

Read More......

Kerukunan di Klungkung Bali




Saya sekeluarga beruntung dapat berlibur bersama di Bali pada 25 - 29 April 2013 lalu. Bagaimana tidak, di Bali kami menginap di rumah sahabat istri saya Naning semasa sekolah di Solo dulu. Letaknya di Kabupaten Klungkung, agak ke timur (atau tepatnya di Tenggara?) pulau Dewata itu. Ia dan suami beserta anaknya menyambut kami dengan hangat seperti kedatangan keluarga dari jauh. Karena kesibukan saudara kami ini yang berniaga dari pagi hingga petang, maka mereka tak sempat menemani kami berkeliling Bali. Sebagai gantinya, mereka menyediakan sebuah mobil kijang Innova lengkap dengan sopirnya. Ini fasilitas luar biasa untuk pelancong seperti kami.

Namanya Ine. Orangnya cantik dan berkerudung. Tingginya tak kurang dari 160 sentimeter. Ia keturunan Cina Bali dan Bandung. Suaminya Sandi, orang Lombok asli. Mereka memiliki dua orang putra, yang tertua baru setahun ini nyantri di Banyuwangi, serta anak terakhir ada di rumah dan duduk di kelas tiga sekolah dasar. Mereka hangat. Kami merasa seperti sedang mengunjungi keluarga di pulau ini.

Kampung Lebah, kelurahan Semarapura, merupakan pusat kota di Kabupaten Klungkung. Kampung Lebah merupakan salah satu dari enam kampung yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Muslim disini tak hanya pendatang, banyak juga yang merupakan orang Bali asli.Herman, orang yang membawa mobil innova yang kami tumpangi berkeliling Bali adalah salah satu orang Bali asli. Tidak seperti orang Bali yang identik memeluk agama Hindu, mas Herman dan keluarganya bahkan memeluk Islam sejak dulu kala. Kedua anak kami, Zahid dan Fatih, senang bersenda gurau dengannya. Apalagi nama panggilannya sama dengan saya. 


Hari raya nyepi merupakan hari suci bagi umat Hindu di Bali. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya ini sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak boleh ada aktivitas. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, kecuali rumah sakit. Bandar Udara Internasional pun tutup. Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada, suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa j├▒ana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).

Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.


Pada hari nyepi, umat Islam tetap melaksanakan aktivitasnya sehari-hari namun membatasi diri supaya tidak mengganggu nyepi umat Hindu. Suara adzan tak dikumandangkan dengan pengeras suara, tidak menyalakan lampu dan alat elektronik yang dapat menimbulkan suara, serta aktivitas lainnya.

Setiap kampung di Bali memiliki tenaga keamanan masing-masing. Namanya pecalang. Ada kesepakatan di antara pecalang di kampung muslim dan umat Hindu. Daripada terjadi bentrok antara pecalang dengan penduduk Muslim yang tidak mematikan lampu atau menjalankan aktivitas yang mengganggu, pecalang dari kampung Muslim sendiri yang melakukan operasi pengawasan rumah-rumah penduduk untuk memastikan bahwa tidak ada aktivitas yang terjadi yang menodai perayaan Nyepi. Jika pecalang Muslim
masih melihat ada lampu yang menyala, alat elektronik yang bersuara, atau aktivitas lainnya, maka pecalang kampung sendiri yang akan menegur warga dan menghentikan aktivitas tersebut. Hal ini dinilai baik supaya tidak ada bentrokan yang berbau agama.

Ada pengecualian bagi warga Muslim di Bali selama Nyepi. Antara lain adalah untuk orang lanjut usia, keluarga yang memiliki bayi, atau ada kematian, yang membutuhkan penerangan dan aktivitas di dalam rumah. Begitu juga dengan ibadah di masjid, Muslim tetap dapat ke masjid namun tidak membuat suara-suara yang "mengganggu". Kesepakatan ini kemudian diketahui dan dipatuhi oleh kedua pemeluk agama yang hidupnya mberdampingan ini.

Pernah ada bentrok fisik antar-warga yang kelihatannya yang berbau agama. Persoalannya sepele, seorang pemuda mabuk setelah meminum minuman keras. Lalu mengganggu pemuda lain yang kebetulah beragama berbeda. Akhirnya timbul perkelahian. Menghadapi ini, warga masing-masing umat memahami akar persoalan sehingga tidak sampai mengakibatkan kerugian yang lebih fatal.

Satu hal yang menarik selama kami berada di Semarapura. Saat sembahyang Subuh di Masjid, saya mengamati sepeda motor diletakkan begitu saja di pinggir jalan yang masih sepi. Bahkan tidak mengunci stangnya. Mobil-mobil pun tidak sedikit yang diparkir di pinggir jalan. Semuanya aman. Tidak ada pencurian kendaraan bermotor. Mas Sandi mengatakan kalau di kampung semuanya saling menjaga keamanan. Tidak ada pencurian, baik di kampung Muslim maupun di kampung yang mayoritas dihuni umat Hindu. Buat saya, ini hal yang luar biasa. Jangan coba-coba kalau mau meletakkan sepeda motor di pinggir jalan di tempat tinggal kami di Bogor, belum lima menit sepeda motor itu pun dapat dipastikan "berpindah tangan".



Jika di waktu subuh suara adzan berkumandang membangunkan warga, maka tepat pukul enam pagi suara alunan alat musik Bali menandai ibadah pagi umat Hindu di sini. Alunan musik yang sama juga terjadi di pukul enam petang. Semua saling tahu. Semua saling menoleransi.

Saya menemui satu istilah baru, yakni Rukun Umat. Mungkin ini semacam Rukun Warga (RW) kalau di pemukiman warga di pulau Jawa. Mungkin karena di perkampungan Muslim, maka istilahnya mejadi Rukun Umat. Seperti RW, Rukun Umat pun ada yang menjadi ketuanya. Segala hal yang berkaitan dengan kewargaan diatur di dalam Rukun Umat. Tentunya supaya kerukunan dapat berlangsung dengan baik.


Perbedaan agama tidak menjadi hambatan masyarakat dalam membangun kehidupan bersama. Hanya saja peristiwa bom Bali yang terjadi pada tahun 2002 dan 2005 lalu sempat membuat hubungan antar umat dua agama disini menjadi tegang. Umat Islam merasa terpojok karena dua kejadian itu.

Sekarang, lambat laun hubungan menjadi harmonis. Aktivitas sehari-hari berjalan lancar. Warga pemeluk dua agama ini menjadi biasa bersosialisasi satu sama lain. Hal yang menonjol di sini adalah warga Muslim mengambil peran di dunia niaga. Praktis aktivitas jual-beli dikuasai kalangan Muslim. Sementara instansi pemerintahan mayoritas diisi oleh umat Hindu. Pada umumnya, kerukunan menjadikan semua aktivitas bejalan lancar. Semoga ini merupakan kondisi yang terus terpelihara, sebab semua orang membutuhkannya.


Read More......

First family tax returns raises flags | The Jakarta Post

Read More......

Kalau sedang bertugas ke daerah-daerah di Indonesia, teman-teman saya selalu mengagendakan aktivitas makan makanan khas daerah setempat. Bagi saya pribadi, hal ini masih tergantung pada ketersediaan waktu dan juga uang di kantong. Jika keduanya bersatu padu, maka mencicipi masakan khas setempat merupakan satu hal yang sangat berharga bagi saya.


Sebagai orang Bengkulu, saya harus mengakui kalau selama ini saya tak begitu hirau dengan nama-nama masakan dari dapur orang Bengkulu. Saya hanya mengingat bahannya serta rasanya. Sejak kecil, ibunda di rumah sangat memanjakan saya dan saudara-saudara dengan segala masakan khas orang kito di Bengkulu ini. Yang jelas, dari sekian masakan itu, ikan merupakan masakan paling saya sukai. Sampai-sampai dulu ayahanda berkelakar saat saya akan merantau ke Yogyakarta, "Nanti kalu ngah lah de agi di 'umah, siape nihan yang makan palak ikan ni.... " (Nanti kalau ngah sudah tidak ada di rumah, siapa lagi yang akan menyantap kepala ikan ini). Ngah adalah panggilan adik-adik untuk kakak nomor 2 bagi orang-orang Bengkulu suku Kaur). Yup, kepala ikan merupakan bagian dari ikan yang sangat saya sukai. Itu sebabnya, meski jauh dari Bengkulu, saya masih terus menikmati kepala ikan kakap, ikan patin, dan ikan-ikan lainnya. Dan betapa bersyukurnya saya ketika tahun lalu berada di Balikpapan dan Banjarmasin saya dapat menikmati kepala ikan patin dan ikan ghuan (gabus). Rasanya sunggu enak, berbeda dengan makan ikan cakalang atau kerapu kalau sedang berada di Maluku.

Berada di Bengkulu untuk tugas kantor bersama teman-teman dari Jakarta awal Oktober lalu semakin menyenangkan karena saya dapat menikmati masakan khas Bengkulu langsung di tanah kelahiran saya ini. Ayuk Susi, teman dari LSM Pendidikan untuk Perempuan dan Anak (PUPA), mengajak teman-teman dari Jakarta untuk merasakan masakan khas orang sini. Petang hari di tanggal 2 Oktober, kami pergi makan di rumah makan Marola yang letaknya di pantai panjang. Letaknya tak jauh dari hotel Grage Horizon tempat kami menginap. Saya pun sesungguhnya belum pernah menikmati masakan-masakan Bengkulu di rumah makan yang menyediakan masakan khas Bengkulu sendiri. Sebagai orang Bengkulu, inilah saat pertama kali saya menikmati masakan Bengkulu di rumah makan khas Bengkulu dan di Bengkulu pula.



Sepanjang perjalanan dari Padang Harapan tempat kami berkegiatan, ayuk Susi bercerita banyak pada teman-teman dari Jakarta tentang masakan Bengkulu. Bahkan soal petai dan jering (jengkol) yang tersedia di rumah makan Marola menjadi rayuan ayuk Susi supaya kami makan di sini. Meski saya yakin teman-teman saya tidak tergiur dengan lalapan itu karena kami semua memang doyan memakannya, namun kami tetap mendapati makanan nikmat nan mengenyangkan setelah berada di sini. :)

Saya teringat guru pelajaran Antropologi saya di SMAN 4 (sekarang SMUN 5) kota Bengkulu. Ia bercerita keunikan orang Bengkulu dalam pengamatannya soal makan. Pertama, orang Bengkulu tidak pernah membedakan antara gulai dan sayur. Jika orang Jawa menyebut gulai untuk masakah olahan dari daging dan berkuah santan, maka orang Bengkulu menyebut semua makanan peneman nasi sebagai "gulai". Bahkan pucuk ubi alias daun singkong pun disebut gulai. Bagi saya, makan nasi dengan gulai (rebusan) pucuk ubi dan goreng ikan betok (ikan puyuh) bersambal atau sambal tempuyak udang merupakan kenikmatan yang membuat saya tak pernah lupa dengan tanah kelahiran.

Kedua, jika orang di daerah lain menikmati makanan berkuah menggunakan sendok, maka orang Bengkulu tetaplah menggunakan tangan untuk makan. Hal ini diakui oleh kakak ipar saya yang asli Sunda dari Sukabumi. Sekarang, teteh saya itu menjadi sangat terbiasa untuk makan dengan cara seperti ini sejak ia tinggal di Kaur sekitar 10 tahun terakhir.


Ketiga, pan basuh atau tempat cuci tangan, atau kobokan kalau kata orang Jawa, merupakan wadah mencuci tangah seukuran mangkok bakso. Pencuci tangan ini biasanya digunakan bersama-sama di meja tempat makan. Banyak tangan dibasuh di satu tempat pencucian. :D

Keempat, mungkin sama dengan kabanyakan orang di Sumatera, orang Bengkulu sangat susah kalau menikmati makanan tanpa ada rasa pedasnya. Kalau bukan masakannya diolah dengan banyak cabe, tentu sambal goreng merupakan satu menu yang harus hadir di meja makan.

Mungkin Anda akan mengingat banyak hal lagi yang unik di daerah ini berkaitan dengan makan. Silahkan kalau mau berbagi cerita di blog ini.

Di rumah makan Marola, kami menyantap ikan gebur yang dibakar, kepiting, cumi-cumi, serta gulai pucuk ubi dan (kalau tak salah) ada pucuk lumay. Ada pula sayur asam dan lalapan terong bulat ungu yang sebenarnya lalapan khas masyarakat Sunda. Kalu lepang (timun) tentulah orang sini juga menyantpanya. Tak ada jering dan juga petai. Tapi hidangan yang ada sudah cukup memuaskan dan mengenyangkan kampi petang itu.

Keesokan harinya, kami memiliki agenda untuk mewawancarai tokoh adat dan seorang dukun beranak di daerah Talo. Disini kami ditemani oleh Ayuk Iin yang bekerja di kantor pemerintah kabupaten yang dulunya merupakan bagian dari kabupaten Bengkulu Selatan. Kami mewawancarai Pak Ujang yang merupakan Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Seluma. sempai sekitar pukulu 14 siang. Perut keroncongan. Kami pun mulai berpikir untuk mencari warung makan. Ayuk Iin yang merupakan suku Lembak desa Tanjung Agung dan juga keturunan orang suku Serawai di Talo menawarkan kami untuk kembali menikmati masakan khas Bengkulu. Kali ini, gulai remis menjadi masakan yang dielu-elukan ayuk Iin. Remis sendiri belum pernah saya temukan di daerah lain di Indonesia. Ia semacam kerang yang hidup di muara sungai. Memasaknya dengan cara direbus seperti memasak sop. Saya kurang tahu persisnya bagaimana karena memang belum pernah belajar memasak remis dari ibunda di rumah. :)


Kami mampir di rumah makan Rosari yang terletak di Tais, ibukota kabupaten Seluma. Ternyata sudah banyak makanan yang habis. "Di sini banyak pegawai yang makan siang, jadi kita sudah dapat sisa-sisa mereka," kata ayuk Iin. Tetapi kami tetap masih dapat menikmati gulai rebung asam yang dicampur dengan ikan, umbut lipai, ikan mujair, kacang panjang dengan terong, dan kalau tak salah ingat juga ada daun paku. Gulai remis nyaris tak dapat kami nikmati karena warung ini baru memasak lagi setelah masakan sebelumnya habis dipesan oleh pengunjung sebelum kami. Kami sempat menunggu sejenak karena masakan disiapkan lagi dari dapur. Meski keroncongan, kami tetap sedia menunggu sampai hidangan yang kami pesan tersedia di meja.

Usai menyelesaikan tugas kantor, saya sempat pulang ke rumah orang tua saya di daerah Pagar Dewa selama dua malam. Teman-teman saya sudah kembali ke Jakarta. Di rumah, saya menikmati bagar hiu yang sengaja disedikan oleh ibunda untuk saya. Hari kedua di rumah saya pun menikmati pendap. Kedua masakan terkakhir tak kami temukan di rumah makan Marolah dan Rosari. Dan saya pun tak jadi membeli pendap di desa Tanjung Agung seperti disarankan ayuk Iin karena ternyata tetangga rumah orang tua saya ada yang bejulan pendap ini.


Saya kembali teringat daftar menu di beberapa rumah makan khas masakan Bengkulu yang pernah dimuat di salah satu edisi majalah Travelounge. Setibanya di rumah saya di Bogor, saya mencari-cari tulisan tentang ini di majalah-majalah khusus bandara yang ada di rak buku. Judulnya menarik sekali, "Rasa Sedap Khas Bengkulu" dan dimuat di edisi bulan Oktober 2011 lalu. Saya pikir sangat baik kalau Anda juga membaca isi majalah ini yang khusus mencatat masakan-masakan khas Bengkulu dari kunjungan penulis dan fotografernya ke beberapa rumah makan di Kota Bengkulu. Silahkan mengunduh (download) filenya di sini.

Read More......

Kolam Renang Pemandangan Pantai



Entah sejak kapan mulai masuk dalam pelajaran pendidikan olahraga di sekolah-sekolah, anak-anak SD hingga SMA di Bengkulu melakukan olahraga berenang sebulan sekali. Setidaknya saya mengalami itu sejak duduk di bangku SMP 20-an tahun lalu.

Awal Oktober 2012, saat bertugas di Bengkulu untuk satu penelitian mengenai adat istiadat di daerah ini, saya menginap di hotel Grage Horizon. Di hotel ini, begitu membuka pintu kamar, kita langsung dapat melihat pantai panjang yang terkenal itu di propinsi bagian Selatan Sumatera ini. Kolam renang di hotel ini sering digunakan oleh para siswa sekolah untuk mengikuti mata pelajaran olahraga. Jadilah setiap pagi di awal Oktober 2012 ini saya harus menyaksikan anak-anak berenang di kolam renang hotel sembari menikmati sarapan.

Hari Kamis, 4 Oktober 2012, sekitar pukul 08 pagi. Saya mengamati anak-anak yang sedang berenang. Seorang guru olahraga mereka yang masih terlihat muda, bernama Pak Adi, menemani murid-muridnya berenang. Pak Adi sibuk meminta beberapa anaknya untuk mempraktikan renang untuk kemudian ia nilai. Sembari memegang buku penilaian dan pensil, saya mengajaknya untuk berbincang sejenak. Mereka adalah anak-anak dari Sekolah Dasar Negeri 2 (SDN 2) Kota Bengkulu. Saya pun minta izin untuk mengambil beberapa gambar aktivitas anak-anak yang sedang berenang.

Berenang di kolam renang hotel Grage Horizon merupakan hal menyenangkan. Dari kolam kita dapat melihat pemandangan laut lepas berwarna biru dengan pantai yang ditumbuhi pohon pinus. Restoran berada di dekat kolam renang. Kalau merasa lelah, sembari menyantap makanan atau minuman ringan menghadap ke laut tentu sangat menyegarkan pikiran. Air kolam renang yang kebiruan tentu menambah kesegaran itu. Apalagi di pagi hari saat mentari belum terik dan langit dalam kondisi bersinar cerah. Saya mendapati itu di setiap pagi di awal Oktober lalu.

Usai mengambil beberapa gambar sekitar 10 menit, saya pun kembali ke restoran, menikmati buah, lalu kemudian beranjake ke kamar untuk mengambil peralatan. Pukul 09.00  saya harus sudah bersama teman-teman lain untuk melanjutkan pekerjaan mengumpulkan data lapangan yang kami butuhkan.

Read More......


Kembali ke Bengkulu untuk sebuah tugas saya alami pada 1 - 5 Oktober 2012. Sejak beberapa tahu terakhir saya memang berkeliling ke daerah-daerah di Nusantara untuk satu program pengkajian mengenai adat istiadat. Dan baru di awal bulan ini saya berkesempatan menggali adat istiadat yang berlaku di Bengkulu.

Saya dan dua teman lainnya dari Jakarta mewawancarai beberapa tokoh masyarakat, termasuk Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Seluma dan Kota Bengkulu. Selan itu, kami pun mengumpulkan beberapa dokumen tertulis mengenai adat istiadat yang berlaku di daerah bekas jajahan Inggris ini. Bertemulah kami dengan dua dokumen yang sangat berarti, Koempoelan Oendang - Oendang Adat Lembaga dari Sembilan Onderafdeelingen dalam Gewest Benkoelen dan Adat Kota Bengukulu. Buku pertama merupakan kumpulan Oendang - Oendang Adat di Kota Bengkulu, Seluma, Manna, Kaur, Kroe, Rejang, Lebong, Lais, Muko-Muko, Serta Undang-Undang Simboer Tjahaja Bangkahoeloe. Dokumen ini sangat berharga karena merupakan dokumen tertulis mengenai adat istiadat di daerah yang pernah menjadi bagian propinsi Sumatera Selatan ini. Sementara dokumen kedua berupa Peraturan Daerah Kota Bengkulu Nomor 29 tahun 2003 tentang Pemberlakuan Adat Kota Bengkulu. Sebenarnya dokumen terakhir sudah saya miliki sejak sekitar 3 tahun lalu atas kebaikan hati teman dekat saya yang bekerja di kantor Pemerintah Daerah Kota Bengkulu. Sayangnya buku ini terselip entah dimana diantara tumpukan buku yang masih belum rapih sejak kepindahan domisili saya dan keluarga setahun terkahir.

Dokumen pertama kami dapatkan dari Ketua BMA Kabupaten Seluma, Bapak Syamsir Ardi. Bapak yang biasa dipanggil pak Ujang ini kami temui di kediamannya di desa Talang Saling, Kecamatan Seluma, Kabupaten Talo. Beliau dengan senang hati mengizinkan kami memfotokopi buku yang ia miliki ini serta bercerita banyak hal tentang adat istiadat orang Serawai. Serawai adalah salat satu suku yang ada di Bengkulu yang mendiami daerah Seluma hingga daerah Manna yang dulunya merupakan satu kabupaten, yakni Kabupaten Bengkulu Selatan. Buku kedua kami fotokopi dari buku milik Ketua BMA Kota Bengkulu, Drs. H. S. Effendi, Ms.

Sebelum bertemu dengan Bang Effen—begitu ia biasa dipanggil—saya sempat berkomunikasi dengan Rendiawan, seorang teman kecil yang tinggal di desa Tanjung Jaya. Saya sampaikan kalau sedang mencari peraturan adat di Bengkulu. Tak disangka ia menginformasikan kalau Bang Effen ternyata adalah kakak dari teman kami masa sekolah dasar di desa itu.

Bang Effen saya ceritai kalau kami sudah mendapatkan peraturan-peraturan adat yang dibuat sejak zaman Belanda. Beliau mengatakan kalau ia juga memiliki. Namun demikian ia memiliki beberapa catatan kritis terhadap pembukuan hukum adat itu oleh orang Belanda masa itu. Salah satunya adalah, hukum adat tidak dijatuhkan pada orang yang melanggar adat dalam bentuk uang. Denda berupa uang merupakan adopsi dari hukum di negera mereka di Eropa. Hukum adat di Bengkulu mengenal hukumnya sendiri yang justru memiliki efek jera yang ampuh. Misalnya jambar antara lain ada nasi kunyitnya.

Bang Effen memiliki rencana untuk menulis beberapa buku berkaitan dengan adat istiadat Bengkulu. Waktu ternyata sangatlah malah buatnya saat ini. Saya sendiri berharap ia segera menuliskannya sehingga semakin banyak adat istiadat orang Bengkulu yang terdokumentasikan, tertulis, dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya. 

Dua dokumen adat yang sudah saya dapatkan ini penting juga untuk dibaca oleh orang-orang Bengkulu supaya tahu adat istiadatnya. Saya mencoba mendokumentasikan hukum-hukum adat ini dan akan membuatnya dalam bentuk file PDF supaya bisa mengunggahnya di blog ini dan berbagi dengan sanak-sanak dari Bengkulu atau siapapun yang membutuhkan. Ada sekitar 265 halam untuk dokumen pertama, serta 147 halaman untuk dokumen kedua. Cukup membutuhkan waktu dan tenaga untuk memindainya. Semoga ada kesempatan dalam waktu dekat ini.

Read More......