Serunai

Aku selalu teringat sebuah alat musik tiup yang ada di daerah kelahiranku di Bengkulu. Namanya suling serunai. Suling atau seruling ini selalu ada pada perayaan pernikahan atau “pesta kebudayaan“ yang ada di Bengkulu. Setahuku, di setiap kabupaten orang-orang memiliki suling serunai. Suaranya mengiringi alat tetabuhan rebana dan gitar.

Pada saat berlangsungnya sebuah pernikahan, biasanya kedua mempelai dibawa berjalan-jalan melalui jalur yang biasa dilewati oleh masyarakat. Acara yang disebut belarak ini menempuh paling tidak sepanjang jalan raya yang ada dalam area satu kecamatan. Saat kecil aku suka sekali ikut belarak. Kalau dipikir-pikir lucu juga. Mulai dari rumah pengantin, semua orang berkumpul, termasuk kelompok musik tradisional daerah. Pengantin berada di mobil paling depan. Sementara para pemusik dan orang-orang yang ikut belarak membuntuti dari belakang dengan berbagai macam mobil yang biasanya adalah truk atau mobil terbuka.

Sepanjang perjalanan, kelompok musik yang hanya memainkan alat musik ini memainkan perannya. Kalau kuperhatikan, sepertinya musik yang dimainkan di kendaraan belarak agaknya berfungsi sebagai penarik sehingga orang-orang yang ada di rumah-rumah mendekat ke pinggir-pinggir jalan yang dilewati untuk melihat pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Acara ini dilakukan pada sore hari, dimana semua orang telah pulang dari sawah dan ladang dan beristirahat di rumah. Yang sangat menonjol dari permainan alat musik tradisional ini adalah suling serunai itu. Suaranya mendayu-dayu mengabarkan bahwa sedang ada dua anak manusia yang sedang berbahagia. Alunan musik seolah memanggil, "kemarilah, lihatlah sepasang muda mudi ini telah menjalin ikatan membentuk rumah tangga, selayaknyalah Anda turut berbahagia seperti mereka".

Empat tahun lalu lalu, atau sekitar lima tahun setelah kepergianku merantau ke Yogya, aku kembali ke Bengkulu. Saat itu aku mengunjungi rumah paman di daerah Padang Jati, atau tidak begitu jauh dari pusat keramaian kota Bengkulu. Entah mengapa suara suling serunai terdengar sayup-sayup di telingaku saat menuju rumah paman. Semakin lama semakin jelaslah serunai itu. Ternyata di dekat rumah paman sedang ada pesta pernikahan. Aku senang sekali dan seperti terobati rinduku pada musik tradisional milik kami di Bengkulu. Alangkah terkejutnya aku, saat kudekati rumah rumah pengantin itu, ternyata musik itu bukan dari tangan-tangan terampil yang memainkan atau meniup berbagai macam alat. Suara musik itu berasal dari sebuah kaset yang diputar pada tape, lalu dihubungkan ke alat pengeras suara.

Sedih rasanya, ternyata kemajuan zaman dan modernisasi telah menenggelamkan eksotisme daerah. Kekayaan budaya bangsa semakin lama semakin memudar. Mungkin seperti pertanian, anak-anak muda sudah tidak mau lagi menggarap sawah sebab hasilnya memang tidak memenuhi kebutuhan ekonomi yang semakin tinggi. Tapi kesenian tradisional? Ia adalah kebanggaan, orisinal, dan merupakan kekayaan yang dicipta dan dimiliki sejak nenek moyang.

Kalau orang asing memuji dan menghargai eksotika bangsa Indonesia karena kekayaan kebudayaannya, maka kalau bukan kita yang melestarikan dan mengembangkan warisan leluluhur kita ini, maka suatu saat nanti, kita yang akan belajar tentang kebudayaan kita dari mereka, orang asing itu. Bayangkan, untuk memainkan alat musik tiup semacam serunai ini, kita harus belajar pada bangsa lain. Sedihnya...

Jakarta, 05 Januari 2006

1 comments

  1. caiss cubidubibuloaloa  

    November 8, 2014 at 3:58 PM

    Saya tertarik dengan informasi mengenai budaya diatas. Indonesia memang Negeri yang memiliki keanekaragaman budaya yang memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing.Selain itu, tulisan diatas sangat menarik untuk dipelajari yang dapat menambah wawasan kita mengenai kebudayaan di lndonesia. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Explore Indonesia yang bisa anda kunjungi di Explore Indonesia






Post a Comment