Narto Mudik Lagi

SALAH satu tukang ojek langganan saya yang mangkal di depan kampus UKI, Cawang, begitu bahagia pagi ini. Sambil menyiapkan motornya untuk mengantar saya ke jalan Latuharhari Menteng, ia bercerita kalau besok pagi selepas sahur (dan selepas subuh tentunya), ia akan berangkat menunggangi kuda besi bersama tujuh teman lainnya. Ia akan mudik ke Boyolali.

Narto bertubuh kurus dengan kulit terbakar matahari sebagaimana tukang ojek kebanyakan di Jakarta. Matanya sering tampak sayu seperti aktor Herman Ngantuk di masa kejayaan TVRI tahun 80-an. Ia sering dipanggil Gus Dur oleh teman-temannya di pangkalan ojek di depan kampus UKI itu.

Saya tak ingat kapan pertama kali menggunakan jasanya untuk berangkat ke tempat kerja. Yang pasti, sejak 3 tahun lalu ada 3 tukang ojek langganan saya. Pertama, adalah Budi, yang sempat mengalami kecelakaan lalu lintas dan harus istirahat total beberapa bulan. Kedua, Syahrul Gondrong, yang panjang rambutnya melampaui bahu. Ketiga, ya si Narto "Gus Dur" ini. Jika mereka semua ada di Cawang, maka sebagai tukang ojek pertama yang berkenalan dengan saya, kesempatan pertama jatuh pada Budi. Demikian seterusnya. Mereka saling memahami untuk masalah ini.

Budi sudah hampir setahun tak kelihatan. Setelah mengalami kecelakaan, ia muncul dengan sepeda motor baru. Lalu menghilang dan muncul dengan sepeda motor berbeda. Setelah lama tak tampak, Gondrong bercerita kalau Budi tak sanggup membayar cicilan kredit hingga sepeda motornya harus diambil kembali oleh dealer penjualnya. Sudah sekitar dua bulan ini Gondrong juga hilang dari peredaran tukang ojek Cawang. Narto yang tinggal satu-satunya pengantar saya, bercerita kalau Gondrong memutuskan tinggal di rumah menemani anak-anaknya serta menjaga warung, sebab istrinya setiap hari berdagang di pasar.

Sebenarnya, beberapa pekan sebelum menghilang, Gondrong bercerita tentang pendapatannya sebagai tukang ojek semakin menurun. Pertama karena penumpang yang semakin berkurang dan lebih memilih naik bisa kota atau Transjakarta setelah krisis keuangan tahun lalu. Kedua, tukang ojek di Cawang telah semakin bertambah tanpa dapat dikendalikan oleh paguyuban tukang ojek yang mereka buat sendiri. "Dapat 30 ribu sehari sudah mending," katanya suatu kali mengantar saya. "Ini juga baru narik meski sudah nunggu dari pagi," tambahnya lagi. Kadang seharian hanya mengantar penumpang satu, ya saya ini.

Narto masih bisa bertahan dengan profesinya. Dulu ia menggunakan Honda Astrea Grand tahun 90-an yang sudah terlihat payah. Dua bulan terakhir ia sudah menggunakan sepeda motor bebek yang sama keluaran terbaru. Ia terlihat lebih percaya diri dengan kendaraan kredit yang saya sendiri merasa belum mampu untuk mengangsurnya. Tapi itulah pilihan perjuangan hidup di kota Jakarta.

Semua tukang ojek langganan saya memiliki sifat pendiam. Tak banyak bicara kecuali kalau ditanya, atau bercerita seadanya kalau ada hal yang mereka pikir akan menarik perhatian saya. Narto lahir di Boyolali, Jawa Tengah. Tidak disangka, ternyata ia berasal dari dusun yang bersebelahan dengan tempat kelahiran istri saya di kecamatan Ngaglik, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Itu sebabnya meski tak banyak bicara namun bahasa tubuhnya memperlihatkan keakraban tak sekedar hubungan antara penjual dan pembeli.

Menjelang lebaran idul fitri tahun lalu Narto bercerita kalau mau mudik menggunakan bis yang disediakan Pemerintah Daerah Jawa Tengah. Dari ceritanya tadi pagi, saya ketahui kalau Pemda di sana sudah menyelenggarakan mudik bareng sejak sekitar 5 tahun terakhir. Kali ini Narto terlihat sangat bahagia. "Dapat 5 tiket," ceritanya. Masing-masing untuk istri dan dua anaknya, satu untuk kak ipar dan satu lagi saudaranya.

Saya berpikir tentunya program ini cukup baik, sekaligus politis. Masyarakat asli Jawa Tengah yang tinggal di Jabodetabek tentunya memiliki rasa bangga memiliki pemerintahan Jawa Tengah, dan tentu akan meningkatkan dukungan politik baik dari mereka yang di perantauan maupun dari keluarga mereka yang masih tinggal di Jawa Tengah.

Persyaratannya cukup mudah: hanya membuktikan memiliki KTP atau Kartu Keluarga Jawa Tengah. Lalu mereka mendaftar di tempat-tempat yang sudah ditentukan sebagaimana tersebut dalam pengumuman di beberapa koran dan radio. Hal ini memunculkan pertanyaan dari dalam diri saya. Bagaimana mungkin orang yang tinggal di Jakarta bisa memiliki KTP Jakarta dan juga KTP Jawa Tengah? Bukankah untuk mendapatkan KTP dan KK Jakarta harus menggunakan surat pindah dari pemerintah daerah tempat domisili sebelumnya? Inilah masalah kronis dari Departemen Dalam Negeri Indonesia dan jajarannya hingga tingkat paling bawah. Seingat saya, surat keterangan pindah domisili dikeluarkan oleh kantor kecamatan untuk diserahkan ke kantor kecataman tujuan sehingga kita bisa mendapatkan KTP dan KK baru.

Sudah umum untuk mendapatkan KTP dan KK di Jakarta, para pendatang harus membayarnya dengan mahal. Seorang teman beberapa bulan lalu harus membayar sejumlah 600 ribu untuk mendapatkan satu KTP dan KK. Sulit untuk menghindari proses mahal ini, sebaba jika ingin mengurus sendiri pun seringkali menjadi mustahil. Di sini, semua pakai uang kalau mau lancar. Akibatnya, sangat mungkin orang yang mendapatkan KTP baru di Jakarta juga masih memegang KTP daerah asalnya. Macam Narto ini. Di sinilah ketidakberesan dalam pencatatan kependudukan yang diselenggarakan oleh Depdagri.

Tahun 1997, saya mendapatkan KTP Bengkulu yang katanya merupakan KTP nasional dan berlaku di seluruh Indonesia. Nomor penduduk yang tercatat di sana bersifat tunggal sehingga tak mungkin status kependudukan saya tercatat dua kali atau lebih di daerah yang berbeda. Nyatanya, KTP itu tidak berlaku di Yogyakarta saat saya ke sana, juga tak berlaku di Kabupaten Bogor tempat saya tinggal sekarang.

SETIAP pemegang tiket mudik bareng ke Jawa Tengah diberi paket lebaran. Ada sarung cap Gajah Duduk, minuman dalam kemasan beserta roti, serta paket dari Air Mancur, sebuah perusahaan jamu yang terletak di daerah itu. Tentu semuanya adalah sponsor kegiatan. Ada 120 bus pariwisata yang disediakan oleh Pemda Jawa Tengah. Bagi pendaftar yang lebih awal, 30 bis diantaranya merupakan bisa kelas VIP untuk mereka. Selebihnya bis yang juga cukup nyaman untuk pulang ke kampung halaman. Mereka semua, termasuk keluarga Narto, telah berangkat kemarin sore dari Taman Mini Indonesia Indah.

Kalau pun Narto masih mencari penumpang hari ini, itu karena ia masih ingin mendapatkan uang beberapa puluh ribu lagi. Paling tidak untuk tambahan beli bensin pada keberangkatannya besok pagi menuju Boyolali. Cukup jauh. "Sekitar 600 kilometer," katanya bercerita tadi pagi. Sesampainya di kantor, saya beri ongkos seperti biasanya, ditambah dengan beberapa untuk sekedar uang saku bagi anaknya. "Minal Aidin walfaidzin, maaf lahri dan batin. Hati-hati di jalan ya," pesan saya.

Lebaran tahun lalu Narto sangat ingin ketemu saya yang juga mudik ke kampung istri. Demikian pula sebaliknya. Sayang, sebelumnya kami tak sempat bertukar nomor ponsel. Tahun ini, saya dan istri tak bisa mudik. Fatih, anak kedua kami belum genap berusia 3 bulan. Agak repot ke mana-mana dengan satu anak yang baru mulai ceria di masa TK serta satu anak yang mulai berusaha membalik-balik badannya. Apalagi belum memiliki kendaraan roda empat pula.

Selamat Berlebaran, kawan-kawan. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT, serta memiliki pengaruh luar biasa untuk perbaikan bangsa ini di masa yang akan datang.

Mohon maaf lahir dan batin untuk semua kesalahan yang sangat mungkin tidak berkenan di hati Anda.

2 comments

  1. isma  

    October 7, 2009 at 12:22 PM

    semoga tahun depan kalian bisa mudik ya dan mampir ke jogja. satu tahun kupikir cukup untuk membawa pulang roda empat... ;)

  2. Saherman  

    October 7, 2009 at 12:31 PM

    Amiin. Terima kasih sudah mendo'akan kami, Isma. Insya Allah kalau sudah memiliki, kami akan mampir untuk membawamu sekeluarga turut serta jalan-jalan di Yogya. :)

Post a Comment