Mau nangis rasanya, membaca berita di Koran Tempo Jumat lalu tentang antrian orang sampai memacetkan jalanan di seputar Senayan City. Orang-orang mengantri untuk membeli sandal dengan harga 300 ribu dan berlian seharga jutaan hingga milyar rupiah. Mereka berdesakan di ruang-ruang mall berpengatur udara yang sejuk.

Tahun lalu, saya menyaksikan sendiri ibu-ibu mengantri berjam-jam hingga pingsan di daerah Jatinegara hanya untuk mendapatkan beberapa liter minyak tanah supaya tetap bisa memasak dengan kompor mereka. Sesuatu yang sungguh paradoks dalam negara bangsa bernama Indonesia.

Fenomena kelas menengah semacam ini pernah disebut oleh teman saya sebagai "menertawai kemiskinan". Sepertinya mereka bangga untuk berbeda dengan orang-orang sebangsanya. Tak peduli, yang penting bisa berbeda selera dengan yang lain, serta harus terlihat lebih tinggi secara sosial dan ekonomi. Ini menyangkut soal prestise. Di kehidupan yang serba semu, prestise adalah tujuan. "Gengsi kami harus lebih tinggi," kira-kira demikian yang jadi semboyan.

Sungguh, saya merasa hidup dalam negeri yang nyaris tak lagi memiliki rasa senasib sepenanggungan. Sering saya mencoba keluar dari kerangka berpikir ini, menjauhkan diri dari realitas sekeliling, dan cukup memikirkan perut sendiri dan keluarga. Tapi kok gak bisa ya?

Keterangan:
Tulisan yang sama pernah dimuat di Politikana
© foto pada Tempo.

7 comments

  1. feriawan agung nugroho  

    May 6, 2009 at 9:20 AM

    Boleh menangis tapi janganlah ditertawai. Bagaimanapun kita harus belajar memberikan mereka tentang sesuatu yang disebut sebagai harga diri dan bukan semata harga gengsi.Makanya, jangan sering-sering ke jakarta, sesat nanti kau, tak bisa masuk surga karena sibuk mengurus gengsi yang dipastikan hanya menambah mudharat dalam hati.Aku tau kau orang yang masih punya nurani, kan? Dan aku tau, nuranimu tak boleh tergadai demi gengsi..hahaha...
    eh, ngomong-ngomong, jahat juga kamu. Mana kau cantumkan alamat blog-ku di blogrollmu?

  2. Herman  

    May 6, 2009 at 10:39 AM

    Baiklah mas Feri. Selalu kuingat pesanmu ini. Kan kalau lagi penat aku akan menghubungi teman-teman di daerah untuk ngobrol-ngobrol, serta sesekali main ke desa macam di Kasongan-Bantul, atau pulang kampung sekalian.

    Maaf, blogmu baru kumasukkan ke dalam blogrollku. Tks.

  3. Retty  

    May 8, 2009 at 10:27 AM

    Salam kenal ya, blog yang menarik...baru baca postingan yang satu ini. Kebetulan saya juga memikirkan ironi yang sama, walaupun boleh jadi yang sibuk antri itu tidak ingin menertawai kemiskinan. Bisa jadi mereka sudah menyumbang sana sini juga...bisa jadi...Kehadiran mereka juga dibutuhkan untuk perputaran roda ekonomi...tapi tetap terasa ironis...

  4. Herman  

    May 8, 2009 at 10:48 AM

    Terima kasih, Retty. Saya sangat menghargai apa pun pendapat orang lain, tak mesti harus segaris dengan apa yang saya pikirkan.

    Saya hanya mencoba mengetuk hati semua orang supaya berpikir, "jangan-jangan banyaknya orang miskin di sekitar kita merupakan akibat dari perilaku kita juga. Saya utarakan itu di Politikana.

  5. ade ferianty  

    May 19, 2009 at 12:30 PM

    Nice post Herman. exactly the same with my thought (previously).

    duluuu --banget-- aku pernah 'menggugat' Tuhan. waktu itu aku masih kecil, SD, aku lupa kelas berapa. yang aku ingat, hari itu hujan deras, aku duduk2 di teras rumah kayu kontrakan kami di Manna. di depan rumah, ada pekerja jalan yang sedang memecah batu...bayangpun...hujan deras gitu, basah kuyup memecah batu untuk memperbaiki jalan. Ada juga yang menunggui di mobil (mandornya)

    Aku mengamati bapak2 yang bekerja itu cukup lama, sampai Ayahku menegur "lihat apa?"
    aku bilang: mereka itu dibayar berapa Bak, banyak nggak? Apa mandornya itu dibayar lebih banyak daripada yang mecah batu? bukankah yg mecah batu itu kerjanya lebih capek daripada mandornya?

    Bapakku --seingatku-- cuma menjawab, Bak nggak tau, memang dimana-mana mandor itu dibayar lebih banyak daripada pekerjanya. pemecah batu itu gajinya mungkin hanya cukup untuk makan.mungkin memang cuma itu pekerjaan yang bisa mereka dapat. makanya kamu sekolah yg baik, biar bisa dapat pekerjaan yang tidak seberat itu.

    Aku ingat banget betapa aku kesal waktu itu. pikirku "Tuhan tidak adil"..kenapa yang kerja lebih berat dapat rejeki--gaji-- lebih sedikit?
    aku sering mikir, kalo aku jadi presiden, aku akan cetak uang sebanyak2nya...dan akan kubagikan ke semua orang miskin biar mereka semua punya uang yg banyak, dan tidak ada lagi orang miskin...

    Beberapa minggu yg lalu, aku nonton Bee-movie. dan aku baru sadar, bahwa memang golongan yang 'tidak punya/ miskin' itu harus ada...karena kalo semuanya kaya/ mampu, maka tdk akan ada orang yang mau jual sayur, nyapu jalan, ngangkut sampah, mecah batu, dsb. kehidupan akan 'stuck'.
    Tuhan menciptakan dan mengatur semuanya dengan sempurna.

    Hanya saja, di Indonesia, kesenjangan itu memang terlalu 'timpang'...
    mudah2an saja ketimpangan itu bisa 'berkurang'..amiiin.

  6. junjung  

    June 10, 2009 at 1:21 AM

    MANGKANYA MARI KITA BAYAR PAJAK...HUEHUEEE...

  7. Herman  

    June 11, 2009 at 3:00 PM

    Jung,

    tak ada hubungannya. Tapi, Tks udah mampir.

Post a Comment