Terima Kasih Allah

Sering saat melaksanakan shalat di satu masjid tak jauh dari tempat tinggal, saya menemukan satu dua orang jamaah yang shalatnya dengan cara duduk atau di atas kursi. Saya memahami mereka sudah dalam kondisi tidak memungkinkan untuk shalat seperti jamaah lain yang masih bugar. Yang Maha Kuasa telah mengurangi kenikmatan dan kesempurnaan tubuh atas mereka karena termakan usia. Namun, justru usia yang mendekati liang lahat itu pulalah yang sering membuat manusia menjadi sadar bahwa ia adalah manusia: lahir, kecil, remaja, dewasa dan berlanjut menjadi senja. Alhamdulillah, orang seperti ini masih juga mau mengingat mati.

Selain karena usia senja, ada pula jamaah yang shalat di atas kursi roda karena memang kondisi tubuh yang ia dapati memang membuatnya berbeda dengan yang lain. Namun ia sadar, bahwa Tuhan tidak membedakan hamba-hambaNya selain Takwa. Karena itu pulalah rasa syukur yang ia miliki sering lebih tinggi daripada orang-orang yang lengkap kenikmatan fisiknya.

Siang itu, di hari ahad yang berlalu, saya mengalami satu kecelakaan. Usai membeli flashDisk untuk adik saya yang baru datang dari Bengkulu, anak saya Zahid meminta untuk jalan-jalan. Dari kawasan niaga Citra Gran, akhirnya saya coba menjalankan sepeda motor, memasuki kawasan perumahan elit Citra Gran. Zahid sangat senang karena di boulevard kawasan itu terdapat bola-bola besar yang berwarna-warni. Lalu kami pun menuju ke kiri, menuju kolam renang dimana kami pernah menikmati kesenangan berendam di dalamnya.

Hujan yang turun cukup lebat beberapa jam sebelumnya menyisakan tanah liat di pinggiran jalan. Dalam kondisi sepeda motor yang berjalan santai, tiba-tiba saja kami terbanting. Sepeda motor yang kami tunggangi meleset dan terbanting ke arah kanan. Tak ada siapapun yang lewat di jalan itu kecuali kami. Saya yang merasa cemas, segera mematikan sepeda motor dan mencoba menenangkan Zahid yang menangis histeris. Celana sebelah kanan sobek, lutut berdarah, punggung telapak tangan kanan juga membengkak dan terkelupas. Rasa cemas luar biasa menghinggapi sebab saya pikir anak saya yang masih tiga tahun itu tertindih sepeda motor. Alhamdulillah tidak. Hanya pelipis kanan yang terlihat lecet.

Sepanjang perjalanan pulang, saya memohon ampun pada Sang Khalik tak henti-henti di dalam hati. Mungkin Ia telah mengingatkan saya untuk bertobat. Kejadian yang saya alami persis saat saya memaki-maki para koruptor. Juga mencoba menghubungkan mereka dengan pemilik rumah-rumah mewah milyaran rupiah namun kosong tak berpenghuni, atau hanya ditempati oleh PRT. Memang bukan hak saya untuk mengurusi kehidupan mereka. Dosa saya terlalu banyak dan tobat saya belum tentu diterima. Juga, diri saya jauh dari sempurna.

Malamnya Zahid demam tinggi. Ibunya cemas.

Sore hari esoknya kami mengundang tukang urut. Ternyata otot paha sebelah kanan Zahid sedikit cidera. Semula ia menangis menolak diurut. Namun setelah selesai menjalani terapi ini, ia malah tidak mau diam, kembali lincah seperti semula. Badan sayapun diurut, oleh orang yang berbeda. Lelaki yang berbadan cukup liat itu pun bersimbah keringat mengurut, memijit-mijit badan saya sekitar satu jam lamanya.

Karena kecelakaan itu, hari Senin dan Selasa saya beristirahat di rumah. Badan masih terasa sakit-sakit rasanya.

Akhirnya shalat tarawih pun saya lakukan di rumah. Sakit sekali rasanya lutut ini. Dan saya merasa tidak kuat shalat 11 rakaat dengan hanya bertumpu pada lutut kiri ketika sujud. Shalat ini saya laksanakan di rumah. Sama seperti jamaah di masjid tak jauh dari tempat tinggal saya itu, saya shalat di atas kursi.

Terima kasih ya Allah, Engkau beri kesempatan padaku untuk bertobat.

10 comments

  1. endah  

    September 18, 2008 at 9:02 AM

    Alhamdulillah.....semua baik-baik saja. Pulang ngga lebaran ?

  2. Herman  

    September 18, 2008 at 10:09 AM

    Pulang, tapi ke timur Yuk Endah. Lebaran lalu sudah ke Bengkulu, jadi gantian dulu.

  3. andesper70  

    September 22, 2008 at 11:15 AM

    Kata orang-orang salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada kita adalah dengan ujian/cobaan yang diberikan kepada kita. Yah mudah-mudahan dengan kejadian ini Bang Herman levelnya setingkat lebih tinggi, Amin.

    Tinggalnya dimana emang? saya tinggalnya di Cileungsi.

  4. Herman  

    September 22, 2008 at 11:57 AM

    Amin. Terima kasih doanye Kang. Aku tinggal di Ciangsana. Ndai Nagrak/Simpang Cikeas ke kidau. Dampingan kite ni dak...

  5. Feriawan  

    September 23, 2008 at 10:57 AM

    Waduh, maaf baru tahu. Semoga semuanya baik-baik saja. Turut berduka cita yaa.

  6. Herman  

    September 23, 2008 at 3:52 PM

    Mas Feri, Alhamdulillah kondisiku dah baikan. Lutut saja yang masih sedikit sakit sebab lukanya belum sembuh betul.

  7. Yenni  

    December 3, 2008 at 6:32 PM

    Aku juga mencari-cari artikel ttg "Guru Bangsa" itu, bro :). Kayaknya menarik lho jika itu diangkat. Anyway, thank dah maen ke blog ku...aku link ya blogmu di my blogspot.

    Zahid gmn kabarnya? Salam buat istri ya

  8. Herman  

    December 4, 2008 at 10:41 AM

    Alhamdulillah Zahid dan ibunya dalam keadaan sehat walafiat. Zahid mau punya adik nih, sudah jalan 5 pekan.

    Jika blog ini memang layak, silahkan link Yenni. Salam pula untuk teman ayahnya Aisyah :)

  9. yenni  

    December 5, 2008 at 10:15 AM

    Blog mu sangat inspiratif, bro. Udah tak link.
    Wah selamat ya...udah mau punya adek ya Zahid. Semoga ibu dan dedek senantiasa diberi kesehatan ya.

    Btw...temen ayahnya aisya yang mana nih...:). Kan temennya akeh :D

  10. Herman  

    December 5, 2008 at 2:23 PM

    Amin. Terima kasih untuk do'amu Yen. Blogmu juga sudah ku-link di sini.

    Ya sudah, kalau keakehan, salamnya untuk Ayahnya Aisya saja. Teman baikku dulu ituh.... :)

    Kirim no ponselmu dan suami ke imelku ya (heningjakarta@gmail.com). Masih di Yogya kan? Kalau kami ke sana lagi, insya Allah mampir.

Post a Comment