Te'iak

Masyarakat Kaur Tengah dan Kaur Selatan hampir 100 persennya beragama Islam. Orang-orang berpuasa di bulan suci Ramadhan sebagai pemenuhan rukun Islam yang ke-tiga. Pada bulan ini, ada satu tradisi yang berlangsung sejak nenek moyang orang Kaur menganut Islam. Namanya "Te'iak".

Dalam kosa kata bahasa Kaur bagian Tengah dan Selatan tidak terdapat pengucapan huruf "R" sebagaimana orang Batak yang bisa mengucapkan dengan jelas. Yanga ada adalah huruf 'ain dalam bahasa Arab, yakni huruf ke 18 dalam susunan huruf Hijaiyah. Jadi kata Te'iak tidaklah dilafazkan "Teriak" seperti dalam bahasa Indonesia. Meski secara harfiah keduanya memiliki arti yang sama, namun "te'iak" merupakan satu kata untuk menyebut tradisi yang hanya berlangsung di bulan puasa.

Te'iak adalah tradisi membangunkan orang-orang di dusun, yang bertujuan (semacam) meminta penduduk untuk segera bangun dan memasak keperluan makan sahur. Te'iak ini berlangsung dari pukul 02.00 - 03.00 WIB. Dengan memasak pada waktu-waktu itu, maka ketika masakan itu matang, seluruh penghuni rumah yang akan berpuasa bisa menikmatai makanan yang masih dalam kondisi hangat dan enak untuk dinikmati. Itulah kenapa membangunkan masyarakat harus di waktu-waktu itu. Perhitungan memasak makanan hingga menjadi matang sekitar satu jam, sehingga saat bersantap sahur tepat di akhir waktu atau sebelum imsyak (batas untuk menyelesaikan sahur, kira-kira 10 menit sebelum Azdan Subuh). Dalam ajaran Islam, sahur dianjurkan berlangsung menjelang atau mendekati subuh.

Te'iak dilakukan oleh pemuda-pemuda di dusun, yang semuanya belum beristri atau berkeluarga. Para pemuda tidak boleh tidur di rumah orang tua mereka pada bulan Ramadhan, tetapi berkumpul dan tidur di Masjid atau Surau (musholla). Sekitar pukul 02.00 WIB mereka bangun untuk mempersiapkan prosesi Te'iak. Sebenarnya, peralatan yang digunakan adalah gendang (seperti rebana namun dengan ukuran yang lebih besar), yang terdiri gendang yang besar dengan diameter sekitar setengah meter dan rebana kecil dengan diameter sekitar 25 cm. Rebana inilah yang ditabuh dengan irama tertentu yang diiringi oleh Hadra (semacam barzanji), yakni puji-pujian yang menagungkan Sang Maha Kuasa serta Shalawatan kepada baginda Rasullullah SAW. Kira-kira tahun 1980-an awal, peralatan ditambah dengan pelatan yang juga menghasilkan bebunyian seperti kelintang (semacam bonang pada peralatan gamelan Jawa) baik yang bentuknya batangan maupun bulat (seperti gong tapi ukuran yang kecil), serta kentungan dan besi.

Ada tiga tahapan Te'iak yakni melantunkan Hadra, lalu dilanjutkan dengan Nu'un Lagu atau beralih lagu dan diakhiri dengan dengan pantun yang balas berbalas, yang semuanya diiringi oleh gendang dan peralatan lainnya dengan irama tertentu yang khas. Dimulai dari Masjid atau surau, lalu rombongan Te'iak berjalan beriringan ke satu ujung dusun ke ujung dusun yang lain dengan tujuan membangunkan penduduk. Irama Te'iak melantun ke seluruh dusun yang dilalui. setelah sekitar satu jam membangunkan penduduk, maka rombongan Te'iak akan kembali lagi ke masjid atau surau.

Te'iak ini hanya berlangsung sampai pukul 03.00 WIB, tidak boleh melebihi waktu itu. Jika ada Te'iak yang melampaui waktu itu, maka penduduk akan menjadi marah, sebab para pemuda yang Te'iak berarti terlambat membangunkan orang-orang untuk menyiapkan santapan makan sahur.

Saat ini, Te'iak masih berlangsung. Namun, jumlah pemuda yang melaksakannya mulai berkurang. Banyak pemuda sudah merantau mencari nafkah di luar kaur sehingga yang tersisa hanya sedikit. Supaya tetap berlangsung dengan baik, anak-anak yang masih duduk di bangku SLTA dilibatkan dalam melakukan Te'iak. Ketika keliling dusun, masih ada tambahan anak-anak yang keluar dari rumahnya untuk mengikuti rombongan Te'iak yang saat itu sedang melewati rumahnya. Biasanya anak-anak ini adalah anak-anak yang sejak kecil jarang melihat Te'iak karena kebetulan orang tua mereka sendiri merantau bersama keluarga di luar Kaur, dan mudik ke Kaur menjelang hari raya Idul Fitri.

Kaur Selatan dan Kaur Utara terletak di daerah yang dekat dengan laut. Adat istiadat atau praktik budaya serta bahasa daerah adalah sama. Kalau pun ada perbedaan dari segi bahasa, hanya terletak dalam pengucapan suku kata untuk beberapa kosa kata saja. Kaur Tengah memiliki pusat pemerintahan kecamatan yang terletak di Tanjung Iman, serta Kaur Selatan sendiri berpusat di Bintuhan. Biasanya, orang Kaur Tengah dan Kaur Selatan mengenalkan diri kepada orang luar sebagai orang Bintuhan. Mungkin karena pusat aktifitas ekonomi dan pemerintahan sejak zaman dulu memang terletak di sana, sehingga nama Bintuhan lebih dikenal oleh khalayak di luar Kaur. Kedua Kecamatan ini memiliki perbedaan bahasa daerah dengan masyarakat yang berada di Kecamatan Kaur Utara, yang lebih dikenal dengan Padang Guci. Kaur Tengah, Kaur Selatan dan Kaur Utara sebelumnya adalah bagian dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Sejak tahun 2005 lalu, Ketiga Kecamatan itu bergabung menjadi satu kabupaten dengan nama Kabupaten Kaur. Dari Ibukota Propinsi Bengkulu jaraknya hampir 200 kilometer ke arah selatan. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Provinsi Lampung di sebelah Selatannya.

Te'iak adalah salah satu tradisi yang ada di daerah Kaur Tengah dan Kaur Selatan yang perlu dilestarikan. Ia adalah kekayaan budaya masyarakat yang bisa jadi akan punah, sebagaimana generasi-generasi terdahulu menyesali anak keturunannya yang sudah tidak lagi bisa berbahasa daerah seperti mereka. Gempuran budaya luar yang masuk melalui proses globalisasi merupakan ancaman yang harus diwaspadai, sebab proses penghilangan budaya itu berlangsung secara perlahan-lahan, seperti proses evolusi yang alamiah saja.

2 comments

  1. aprina  

    November 6, 2007 at 7:32 PM

    suprise...ada yang nulis tentang kaur
    mas herman dari daerah sana?

    saya punya darah kaur tengah coz ibu asli sana tapi kita domisili di Manna, bengkulu selatan.

  2. Herman  

    November 7, 2007 at 12:24 PM

    Di Akte kelahiranku disebutkan tempat kelahiran: Bengkulu Selatan.

    Senang ketemu sesame u'ang Kaur. Nanti ikutan jadi kontributor untuk blog Simpang Limo Bengkulu, awu. Buka di http://simpanglimo.blogspot.com

Post a Comment