Kereta Api Kelas Ekonomi


Pernah naik kereta api kelas ekonomi? Dulu, saat masih mahasiswa di Yogyakarta, saya sering melakukannya. Perjalan dari Jogjakarta - Jakarta, Yogyakarta - Bandung atau sebaliknya. Selaku mahasiswa sebuah perguruan tinggi Yogya yang mahasiswanya terkenal kebanyakan dari kelas kere Indonesia, saya adalah salah satu pemakai setia kereta kelas Ekonomi. Kenyataannya, saya memang hanya mampu untuk berada di kelas itu, di luar segelintir penduduk Indonesia yang bisa menikmati kelas Eksekutif atau kelas Bisnis.

Meski sudah menyatakan kapok, akhir Juli lalu saya kembali naik kereta kelas ekonomi. Pergi ke Cilacap, saya tidak memiliki pilihan lain selain naik kereta kelas ini untuk kembali ke Jakarta. Posisi stasiun Kroya sudah di tengah-tengah jalur Pulau Jawa. Berbeda kalau saya naik dari Yogya atau Solo yang meski kereta kelas Ekonomi, namun besar kemungkinan tiket masih memiliki nomor kursi, sebab dari kota inilah kereta memulai keberangkatannya. Seperti kisah kedisiplinan Bangsa Indonesia, meski kursi telah penuh terisi, penjual tiket di stasiun tetap terus menjual tiket sebanyak mungkin. Tidak peduli bahwa setiap gerbong memiliki batas daya tampung sendiri.

Alhasil, di dalam gerbong kereta, saya bersama penumpang yang malang harus berdesak-desakan memanfaatkan "ruang" kosong lorong-lorong kereta. Dengan selembar koran, ada yang duduk atau tidur di sana atau celah kosong antar-gerbong, dan di depan kamar kecil yang pesingnya tak terkira. Bahkan, mereka yang betul-betul malang, dengan terpaksa harus tetap berdiri hingga stasiun bekasi dimana beberapa penumpang mulai ada yang turun.

Kondisi kereta kelas Ekonomi sudah seperti pasar. Duduk tanpa bisa berselonjor kaki, kami harus menerima kenyataan dilangkahi oleh penjual asongan di kereta. Jangan harap ada jeda yang cukup untuk tak dilangkahi pedagang kecil ini, nyaris tanpa ada kesempatan untuk beristirahat dari kaki-kaki yang melangkahi dan suara-suara menawarkan aneka jajanan Lanting, A**a, nasi bungkus, mi rebus, minuman jahe, bahkan oleh-oleh semacam blangkon dan kaos Dagadu (yang pastinya palsu). Uniknya, untuk menarik pembeli, para penjual ini menawarkan dengan suara-suara yang unik. Sebut saja penjual air minum dalam kemasan. Meski dengan merek yang berbeda, tetap saja mereka sebut A**a. Mereka teriakkan dengan cara menggemakan suku kata terakhirnya. Saya teringat, di kampung, meski ada sekian banyak merek pasta gigi, tetap saja orang akan menyebutnya "odol".

Beginilah nasib bangsa Indonesia. Kondisi penumpang kereta menggambarkannya. Rel kereta di sepanjang pulau Jawa masih satu. Kalau ada kereta kelas Bisnis yang mau lewat, baik dari belakang yang akan menyusul maupun yang berpapasan berlawanan arah, maka kereta kelas ekonomi harus mengalah, harus diam di jalur cabang, sehingga kelas yang lebih tinggi bisa melewati jalur yang dari masa penjajahan tetaplah satu. Begitupun kereta kelas Bisnis. Kalau ada kereta kelas Eksekutif, maka ia harus merelakan jalurnya dipakai. Kereta ekonomi akan berhenti hampir di setiap stasiun kecil dan besar. Kereta kelas Bisnis hanya sesekali berhenti di stasiun yang cukup besar. Kelas Eksekutif hanya berhenti di stasiun besar saja seperti stasiun Cirebon, Purwokerto, Tugu-Jogja atau di Surabaya. Mungkin sudah nasib menjadi bangsa Indonesia yang semrawut dalam penataan fasilitas umum, yang lebih atas akan selalu--mau tidak mau--menginjak yang di bawahnya. Masyarakat dengan kelas sosial yang lebih atas ditopang oleh masyarakat kelas di bawahnya.

Maling itu berkelas. Di kereta kelas Ekonomi selalu ada kisah penumpang kemalingan. Maling di kelas Eksekutif dan Bisnis pun tidak nihil. Kalau lengah, maka penumpang dibuat kesal sebab barang-barang bawaan sudah berpindah tangan. Penampilan maling sama dengan penampilan penumpang. Mereka, karena menjadikan kereta sebagai ladangnya, sudah faham kapan saat penumpang lengah, mana barang atau tas yang di dalamnya ada benda berharga, serta posisi duduk penumpang seperti apa yang memudahkan untuk mengambil dompet dan telepon genggam di kantong celana.

Sudah lebih setengah abad Indonesia merdeka. Stasiun, rel, bahkan keretanya, yang merupakan transportasi massa masih merupakan peninggalan Belanda. Tak heran, dalam sepuluh tahun terakhir banyak peristiwa kecelakaan terjadi. Bukan saja karena sudah tua usia fasilitas itu, namun karena kenyataannya Pemerintah sendiri tidak memiliki keseriusan dalam membenahi. Banyak perencanaan, sedikit yang menjadi kenyataan.

Saya berpikir, para wakil rakyat di Senayan sebaiknya lebih sering naik kereta kelas Ekonomi. Supaya mereka tahu kondisi masyarakat yang mereka wakili. Dengan merasakan sendiri kondisi nyata pemilihnya, saya pikir wakil rakyat yang terhormat itu tahu apa yang menjadi prioritas kebijakan yang harus diperjuangkan.

Kereta kelas ekonomi adalah gambaran kelas bawah masyarakat Indonesia. Kalau belum pernah naik kereta ini, menceritakan kisah masyarakat kelas bawah rasanya belum sempurna. Kalau tidak percaya, silahkan mencoba. Jangan lupa, supaya tahu kondisi terburuknya, naiklah kereta ini dengan jalur penuh Jakarta-Surbaya atau sebaliknya. Bila perlu mendekati hari raya Idul Fitri pula. Selama berada di dalamnya, cobalah untuk merenungkan kondisi di sekeliling. Kalau sudah bisa menangkap realitas, saya yakin Anda akan terpana.

4 comments

  1. fetro  

    August 14, 2007 at 1:18 PM

    Selama sistemnya nggak dibenahi dan moral yang ngurus kereta api nggak berubah, kondisi kereta api akan tetap seperti itu.
    Pengen buktiin moralnya orang PJKA? nggak usah beli tiket resmi, bayar diatas aja, pasti diterima dan uang yang keluar jauh lebih sedikit.
    (jangan tanya halal haramnya ya)

  2. rawins  

    August 18, 2007 at 2:58 PM

    Alaaahh pak, mbok jangan mimpi kalo anggota DPR itu bakal dengan sukarela naik kereta ekonomi hanya demi ikut merasakan "nikmatnya" jadi wong kere.

    Dulu aku juga bolakbalik tiap akhir minggu pake kereta, bahkan lebih seringnya umpet2an sama kondektur biar ndak nembak tiket 3000perak sama dia. hehehhe

    salam kenal,

  3. Anonymous  

    March 10, 2011 at 2:26 PM

    http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/ef/Shinkansen_700T.jpg

  4. Saherman  

    March 29, 2011 at 10:17 AM

    Hai, gambar kereta yang di tautan Anda menarik sekali. Kapan ya Indonesia bisa punya kereta bagus begini? :)

Post a Comment