Puisi Diri

Hampir seminggu tidak membaca imel yang masuk di beberapa milis yang saya ikuti. Saya baru usai membaca sebuah puisi yang dikirim oleh penulisnya sendiri ke sebuah milis yang memperjuangankan hak asasi perempuan. Saya terkaget-kaget, kemudian berpikir. Jarak antara yang saya pikirkan dengan kenyataan sebenarnya ada dalam pikiran si pembuat puisi ini bisa jadi jauh sekali.

Apa yang saya pikirkan mengenai puisi yang ditulis "aktivis" perempuan bernama S***h ini?

Saya membayangkan si penulis mencipta puisi ini dengan begitu khusuk merenung, berfikir jauh tentang kondisi bangsanya, di sebuah kedai kopi HardRock atau Starbuck. Atau di sebuah rumah makan McD atau Kentucky, sambil menghirup segelas Coca Cola dan mengunyah keripik kentang yang renyah di sana. Kentang yang dihasilkan dari pegunungan di Garut, yang tahun 2003 lalu melongsorkan sekian kubik tanah dari dataran tinggi itu, menghempas rumah-runah penduduk desa di sekitarnya, dan ikut pula merenggut nyawa orang-orang tak berdosa. Menurut salah seorang dari Kementerian Lingkungan Hidup kala itu, hutan di gunung itu disulap menjadi lahan yang khusus menghasilkan kentang-kentang yang memasok makanan cepat saji di kota.

Mulailah S***h menulis, sebaris demi sebaris, hingga selesai ia tuntaskan makan dan minumnya. Nyaris bersamaan, selesai pula puisi di tangannya.

Pikiran saya, bukan si penulis atau puisinya, melanglang ke mana-mana. Saya membacanya. Tapi saya melihat nada yang nyinyir pada puisi ini. Hari gini, banyak yang pandai menuliskan puisi, sekian banyak pula hanya sebatas suara lantang di ruang yang kosong atau di tengah masyarakat dengan kondisi perut keroncong. Saya khawatir si penulis tidak menyadari bahwa dirinya bisa menjadi bagian dari sebuah masalah. Tidak pula, mereka yang memeperjuangkan hak-hak warga negara, begitu gigih berjuang di hotel berbintang di sana sini di siang hari, malam hari membuat tradisi melepas lelah di Cafe dan "warung modern". Tak kalah pentingnya, kalau demonstrasi sepatunya Nike dan Levi's Strauss sambil menenteng minuman cola asli "negeri sana".

Bisa jadi tidak hanya Anda, tapi juga saya, berteriak seolah diri tak terkait dari semua masalah di negeri ini. Saya berpikir sekali lagi, jangan-jangan saya, seperti si penulis puisi ini, sudah begitu terlena meninggalkan masa lalu yang suram serba kekurangan. Atau memang karena berpura-pura bersalah atas fasilitas kelas menengah yang didapat sejak belia, dan sekarang seolah mendapat kans untuk berpihak pada si korban ketidakadilan dunia.

Maafkan, saya masih belum berani menyebut diri aktivis. Saya orang biasa yang mencoba berpikir untuk sesama. Yang dapat saya lakukan hanyalah ngobrol dengan tetangga dan orang di sekitar saya, sembari sesekali melontarkan pernyataan dan pertanyaan untuk mengajak mereka berpikir tentang ketidakadilan dunia. Perubahan mendapatkan arah sebenarnya dari kesadaran kritis dan keihlasan tanpa iringan mimpi jangka pendek segelintir orang yang berambisi secara pribadi.

--------------------

Sosialis

Aku adalah seorang sosialis,
yang hatinya gampang teriris,
melihat para kaum para kaum reformis,
mengusir rakyat dari tanah adatnya sendiri dengan bengis,

aku adalah seorang sosialis,
yang tak suka dengan para kaum kapitalis,
yang menghabiskan sumber kekayaan alam,
tanpa pernah melakukan upaya menjaga kelestarian alam,

aku adalah seorang sosialis,
yang tak suka dengan para kaum materialis,
yang suka merampok uang rakyat sesuka hati,
tanpa pernah ada rasa bersalah di hati

Jakarta, 7 Juli 2007
By : S***h Jakarta

1 comments

  1. Bayu Dardias  

    July 19, 2007 at 1:38 PM

    Tulisan ini memberikan inspirasi berkaitan dengan agenda aksi dan konsistensi visi. Ada visi yang jauh ke depan yang diimbangi dengan agenda aksi jangka pendek misalnya dengan tidak memperkaya pemilik starbuck. Tapi cafe di Jogja lain. disini didirikan cafe sebagai alternati starbuck. Artinya gerakan perlawanan tetap menemukan ruang untuk sekedar bertedur dan meminum secangkir kopi yang harganya 4000 an. Jadi, melawan tidak melulu memboikot, tapi menyediakan alternatif.

Post a Comment