Membeli produk negeri sendiri

Koran Sindo sore tanggal 1 Mei 2007 lalu memuat laporan singkat yang menarik. Namto Hui Roba, Bupati Halmahera Barat, bersumpah tidak akan makan nasi selain dari beras produksi daerahnya. Ia melakukan sumpah ini di hadapan tokoh adat di daerahnya.

Mulai sekarang, saya tidak akan makan nasi selain beras produksi daerah ini. Sebelum ada beras produksi daerah ini, saya akan makan umbi-umbian dan sagu.


Luar biasa. Ini yang sangat saya impikan selama ini: kemandirian sebuah bangsa ditunjukkan oleh langkah-langkah nyata para pemimpinnya. Bagaimana mungkin rakyat dipaksa mencintai produksi dalam negeri sementara pemimpinnya, dari rambut sampai kaki, bahkan yang masuk ke dalam mulutnya, lebih banyak produksi luar negeri. Saat awal krisis tahun 1997/1998, Putri Soeharta mengajak semua orang mencintai rupiah. Sementara, keluarga dan orang-orang tedekat Soeharto sendiri menyimpan uang dalam jumlah tak terbatas di luar negeri.

Tahun-tahun terakhir, setiap hendak menghadapi masa panen padi, petani menangis. Harga jual gabah dan beras turun. Pemerintah mengimpor beras lagi. Alasannya klasik, Bulog mengatakan stok beras dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan. Untuk itu perlu mengimpor. Juga, untuk mengatasi harga beras yang melonjak akibat stok yang tidak melimpah. Departemen Pertanian sendiri mengatakan bahwa hasil keringat petani-petani dalam negeri mampu mencukupi kebutuhan. Berdebatlah mereka soal angka-angka. Saya sendiri pernah bekerja membantu seorang anggota Legislatif di Senayan. Saat itu, awal 2005, saya mengetahui dari kasak-kusuk broker-broker politik menawarkan jatah anggota dewan yang berani mengusahakan beras dari luar masuk ke Indonesia. Miris saya dibuatnya. Namun begitulah kenyataannya, beras itu bisa masuk dan mematikan pertanian di sini akibat kepentingan sejumlah pejabat yang menangguk keuntungan luar biasa dari permainan kebijakan pangan.

Generasi sekarang tidak sensitif pada ekonomi nasional. Majalah Gatra 28 Maret 2007 memuat liputan khusus tentang waralaba makanan asing yang berjaya di Indonesia. Jutaan dolar uang lari ke luar negeri untuk membayar royalti. McD, KFC, Wendy's, A&W adalah gerai makanan waralabat yang dianggap sebagai simbol makanan orang modern, Rasa Amerika. Banyak orang ingin disebut modern. West is the best. Apa saja yang berbau barat adalah yang terbaik. Entah kenapa pencitraan modern sampai begitu kuatnya termakan oleh orang-orang di sini. Saya menolak semuanya. Bagi saya, kecintaan saya pada Indonesia membuat saya bangga pada anekaragam makanan daerah yang ada. Begitu banyak asupan yang penting untuk tubuh ada di dalamnya. Gado-gado, pecel lele, wedhang rondhe, ayam goreng Suharti, empek-empek jauh lebih memikat dari pada makanan rasa Amerika itu. Saya percaya, hanya mengkonsumsi makanan asli anak negeri dapat mendukung perekonomian nasional. Karena hal itu, tidak jarang saya harus menerima cemooh teman-teman bekerja, orang-orang dekat saya, dan mereka yang sudah tidak peduli akan nasib negeri ini. Bahkan aktifis-aktifis demokrasi dan HAM yang saya kenal sekalipun, gemar nian mereka makan di tempat "rasa Amerika" itu, berdiskusi sambil menenggak wine dan pura-pura memikirkan bangsa. Saya nyaris kehilangan kepercayaan pada mereka.

Saya mencintai negeri ini. Belanja mingguan saya lakukan di pasar tradisional Ciluengsi, pasar terdekat dengan tempat tinggal saya dan keluarga. Saya bandingkan harga bahan pokok di pasar tradisional dan di supermarket. Harga di pasar tradisional sedikit lebih murah. Teman yang suka menyebut saya sok nasionalis mengatakan, belanja di pasar tradisional harus melakukan tawar menawar. Mereka tidak suka demikian. Bagi saya, tawar menawar justru merupakan interaksi sosial yang hangat. Ada emosi yang terlibat di sana. Saya punya langganan untuk barang-barang tertentu yang saya beli setiap minggu. Saya jadi akrab dengan pedagang-pedagang itu. Selalu ada senyum ketika melewati lorong-lorong pasar yang becek. Tetapi saya bahagia, ekonomi rakyat menjadi bergairah di tengah hantaman pemodal-pemodal asing yang ingin mendirikan banyak rumah belanja. Harga di supermarket bisa jadi lebih murah dari harga di pasar tradisional. Itu karena pemilik supermarket bisa memotong jalur distribusi. Tetapi bagi saya belanja di pasar tradisional memberi kehidupan banyak orang.

Saya tidak anti supermarket. Kebutuhan-kebutuhan yang tidak bisa saya dapatkan di pasar, saya membelinya di supermarket. Hal ini terjadi karena saya ke pasar biasanya pada pagi hari di akhir pekan (Sabtu atau Minggu). Pada pagi hari, saya lebih banyak menemui pedagang-pedagang sayuran, rempah, daging, ikan, dan buah. Lebih banyak kebutuhan dapur. Kondisi becek tidak bisa menjadi alasan saya untuk lebih memilih supermarket dalam berbelanja. Pasar bisa dibuat lebih rapi dan bersih yang membuat nyaman tidak hanya pedagang namun juga pembeli. Pasar Bring Harjo Yogyakarta bisa menjadi contohnya. Sewaktu tinggal di Yogya, saya biasa belanja ke sana. Untuk kebutuhan sandang, saya dan istri biasa berbelanja di Pusat Grosir Cililitan. Tetap ada proses tawar menawar di sana.

Belanja merupakan usaha pemenuhan kebutuhan. Berbelanja pun butuh sikap bijak. Utamakan produksi dalam negeri. Prestise dan kebanggaan akan barang-barang luar negeri, lambat laun akan menyebabkan produksi dalam negeri menjadi mati. Lalu siapa lagi yang mau menjadikan negeri ini mandiri kalau bukan kita sendiri. Saya membayangkan Indonesia bisa mandiri seperti Kuba. Saya senang sekali melihat itikad kuat Bupati Halmahera Barat itu. Seperti syair ciptaan John Lennon dalam sebuah lagunya:

You may say I am a dreamer
but I am not the only one

John Lennon bukan asli negeri ini. Tetapi meresapi lagu-lagunya tidaklah sama dengan menyantap makanan dari McD. Saya percaya, jika kesadaran itu tumbuh dan meluas, akan kuatlah bangsa ini. Saya terus berupaya. Semoga Anda juga.

0 comments

Post a Comment