Tukang ojek langganan



Sudah lebih 6 bulan terakhir saya naik ojek kalau ke kantor. Tidak langsung dari rumah, hanya dari depan kampus UKI Cawang menuju jalan Latuharhari di Menteng. Memang memakan uang transport lebih mahal ketimbang menggunakan bisa kota. Namun, waktu tempuh ojek dari Cawang ke Menteng lebih cepat, yakni 25 menit berbanding 50-an menit jika naik bis kota. Jadi, ongkos lebih mahal berbanding lurus dengan waktu perjalanan yang lebih cepat. Cara ini saya tempuh, juga sebagai konsekuensi saya berangkat dari rumah agak siangan, karena keinginan untuk bermain dengan anak di pagi hari.

Sebelumnya, sebagai seorang commuter, saya biasanya naik bis kota menuju kantor. Berdiri dan berdesakan dengan penumpang lain sewaktu tidak mendapatkan tempat duduk merupakan pengalaman mengesankan. Maklum, seperti lagu Bis Kota yang dinyanyikan God Bless, kami sama-sama orang tak punya. Berangkat dari rumah biasanya pukul 07.30 wib atau lebih. Lalu 2 kali naik angkutan menuju Cawang. Biasanya tiba di Depan kampus UKI Cawang sudah pukul 08.30 wib. Waktu masuk kerja pukul 09.00 wib, sehingga saya mau tidak mau harus menggunakan jasa ojek untuk mencapai kantor.

Sampai saat ini, saya ingat-ingat, ternyata saya sudah memiliki 4 orang tukang ojek secara tetap. Awalnya hanya 2 orang. Jika tidak ada satu, maka saya akan naik yang satunya lagi. Karena penertiban lalu-lintas di kawasan Cawang, sering angkutan yang saya tumpangi berhenti tidak lagi persis di tempat ngetem tukang ojek langganan saya. Karena buru-buru atau dua tukang ojek itu sedang tidak ada di tempat, akhirnya saya menggunakan tukang ojek lain, yang ternyata juga mau mengantarkan saya dengan ongkos yang sama nilainya.

Karena sudah hampir tiap hari mengantarkan, 4 orang tukang ojek itu terlihat menunggu. Biasanya tukang ojek yang lebih baru menjadi langganan akan mengalah jika tukang ojek langganan yang lebih lama mendekati saya. Biasanya pula saat tiba di Cawang, saya langsung mencari tukang ojek yang sudah lebih lama menjadi langganan saya. Rupanya masing-masing mereka sudah saling tahu sehingga yang lebih baru berlangganan mengantar saya akan mengalah pada yang lebih lama. Minggu lalu, saya hanya melihat satu tukang ojek saya. Dari dalam mobil angkutan saya sudah memberi kode supaya dia mendekat ke angkutan yang sudah mau berhenti di depan halte. Ketika turun dari angkutan, ternyata tukang ojek yang sudah lebih lama berlangganan mendekati saya pula. Akhirnya kedua tukang ojek itu berada di sisi kiri dan kanan saya, saling tatap lalu tertawa bersama. Lalu saya pun bertanya, "saya naik yang mana nih?". Tukang ojek yang lebih baru menjawab, "terserah". Terasa sekali kalau ia mengalah karena tukang ojek satunya lagi memang sudah lebih lama berlangganan pada saya.

Saya salut dengan para tukang ojek di depan UKI ini. Sekarang, meski belum semuanya ikut, sudah ada persatuan atau paguyuban yang mereka bentuk sendiri. Meski berkelompok-kelompok dengan jarak sekitar sepuluh meteran, mereka saling kenal. Karena itu masing-masing sudah tahu siapa berlangganan pada tukang ojek yang mana. Bahkan berapa ongkosnya pun saling tahu. Saya menyebut ini sebagai etika tukang ojek, yang saya pikir bisa jadi contoh baik bagi siapa saja. Mereka saling menghargai, tidak mau merebut penumpang yang sudah jadi langganan temannya.

Semua tukang ojek langganan saya di Cawang ini adalah orang-orang yang baik, ramah, serta mau diajak bercerita sepanjang perjalanan. Selain itu, saya tidak perlu lagi menawar ongkos setiap kali akan menggunakan jasa mereka. Ini sebagian hal-hal menyenangkan bagi saya sebagai penumpangnya.

Di tengah kemacetan Jakarta yang hingga saat ini masih belum teratasi oleh kehadiran busway, ojek merupakan alternatif transportasi yang masih dipilih banyak orang. Saya salah satunya. Sayang sekali, dari dulu pemerintah selalu berat untuk berpihak pada "kelompok marjinal". Pemerintah memang hanya mau melayani orang kaya dan berduit di negeri ini. Segera dibuat peraturan daerah DKI: sepeda motor dilarang melewati jalan-jalan utama jakarta. Oalah... Nasibmu tukang ojek.

1 comments

  1. jual sprei  

    October 7, 2011 at 7:11 AM

    thaks gan infonya

Post a Comment